Kisah 4 Wanita Yang Berjuang Keluar Dari Hubungan Cinta Tidak Sehat

Setiap orang tentu ingin mendapatkan pasangan yang terbaik. Sehat lahir dan batin. Tetapi, tentu saja tidak semua keinginan itu bisa terkabul, bukan. Di sinilah perlu kepekaan kita untuk mengenali adakah hal yang tidak beres dalam hubungan cinta dengan pasangan. Memang cinta itu buta, tetapi jangan mau karena dibutakan oleh cinta maka diri kita menjadi taruhannya.  

Karena, seperti yang diakui Elly Nagasaputra, psikolog yang juga marriage counselor, sepanjang pengalamannya menghadapi klien, mereka kelihatan normal-normal saja. “Bisa ngobrol dengan enak, mereka juga bekerja seperti biasa, entah itu sebagai karyawan atau pemilik bisnis. Tetapi, begitu disentuh persoalannya dengan pasangannya, baru keluar kata-kata maupun ancaman, seperti mau menembak dengan pistol atau memepet mobil dengan truck,” katanya.   Tapi, sebelum menilai apakah hubungan kita dengan pasangan itu tidak sehat dan mencari jalan keluar dari persoalan, yang pertama kali harus dimengerti adalah apa, sih, hubungan yang sehat itu?   “Hubungan yang sehat adalah hubungan yang membuat kita bisa berkembang menjadi a better person,” ujar Elly.

Contoh sederhana, ketika Anda memiliki kekasih, dengan alasan cinta, sayang dan perhatian, maka Anda dilarang ke mana-mana sendiri, atau apapun yang Anda lakukan harus atas seizin dia. Atau, Anda adalah wanita yang memiliki passion untuk berkarier di kantor. Lalu, calon suami Anda mensyaratkan ketika menikah, Anda harus berhenti dari pekerjaan dan fokus untuk menjadi ibu rumah tangga saja.   “Tanpa mengecilkan peran sebagai ibu rumah tangga karena peran ini sangat berharga, tetapi persoalan di sini adalah Anda merasa berkembang dan passionate dengan karier di luar rumah. Nah, dengan pelarangan yang tanpa kompromi itu, apakah pasangan Anda membuat Anda bertumbuh?” tanya Elly. Karena bisa diibaratkan, Anda ibarat bonsai, yang setiap cabangnya yang tumbuh dipangkas habis.
Sejak berpacaran dengan Ditya, dia berulang kali mengungkapkan keinginannya untuk membawa hubungan kami ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, gara-gara menolak untuk mencicil apartemen bersama, Ditya marah dan keluar sifat aslinya. Dia lalu mulai mengkritik cara saya mengatur keuangan. Katanya saya terlalu boros dalam hal penampilan, dan harusnya saya bisa menambah penghasilan bulanan.
 
Dia juga mulai mengatakan, kalau sudah menikah nanti, sebaiknya tidak usah punya anak karena menghabiskan banyak uang, tidak usah beli mobil karena perawatannya mahal, dan sebagainya. Yang menyakitkan, ketika akhirnya saya memilih putus, dia sempat mengatakan kalau saya morotin dia.
 
Pascaputus hubungan, dia mulai meneror saya. Dia menunggui saya pulang kantor dan saya keukeuh tidak mau pulang dengannya. Ini membuatnya tambah marah. Hampir setiap hari, dia sudah di depan kantor pukul tiga sore dan menunggu saya keluar kantor. Pernah, saya diseret masuk ke mobilnya, sampai jadi tontonan orang banyak. Sungguh memalukan.
 
Gara-gara dia sering nongkrong di kantor saya, dia sampai dipecat oleh kantornya karena sering mangkir selama jam kerja. Suatu kali, saya meminta kakak untuk menjemput saya karena saya merasa terancam dengan keberadaan mantan. Yang terjadi, dia malah bertengkar dengan kakak.
 
Teror melalui telepon terus-menerus datang. Dia bilang akan merusak wajah saya dengan menyiram air keras agar tidak ada pria yang mau dengan saya. Dia juga mengatakan kepada saya, bahwa ia tahu ke mana pun saya pergi, semua gerak-gerik saya, dan bisa mencelakakan saya sewaktu-waktu. Bahkan, saat saya mengatakan akan melaporkan ke polisi, dia menantang dan mengatakan bahwa tidak takut dipenjara.
 
Jika teman kantor yang mengangkat telepon dan bilang saya sedang sibuk, dia akan memaki-maki sambil mengancam: “Siapa kamu? Kamu tidak tahu siapa saya? Saya bantai kamu dan keluarga kamu, saya bisa sewa preman dan bikin mampus keluarga kamu semua!”
 
Bisa dibayangkan, saya sangat malu dan langsung minta maaf kepada atasan saya. Untungnya beliau mau memahami dan bahkan turut prihatin atas kejadian ini.
 
Untuk menjaga keselamatan hidup saya, juga malu, saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan. Karena, ketika saya protes atas terornya itu, malah dia menertawakan saya dan bangga atas sikapnya tersebut.
 
Setelah pindah kantor, juga memilih keluar dari rumah orang tua untuk kos, untunglah terornya juga berhenti. Saya sempat trauma dan jadi sangat berhati-hati menjalin hubungan dengan pria. Tetapi, saya bersyukur pada akhirnya bisa menemukan belahan jiwa saya, yang mampu memberikan rasa aman pada saya.